Tanggal 1 Desember 2017 yang
jatuh pada hari Jum’at merupakan hari libur nasional karena hari ini merupakan
hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Hari Jum’at ini juga merupakan Jum’at pertama di
bulan Desember dimana gereja Katolik selalu mengadakan misa untuk devosi kepada
Hati Kudus Yesus. Hari libur kali ini saya manfaatkan untuk membaca koran-koran
lama yang belum pernah saya baca sehingga dengan menyicil membaca koran-koran
lama saya yang masih menumpuk di waktu senggang pada hari libur ini setidaknya
dapat mengurangi tumpukan koran-koran lama tersebut. Pada sore harinya, saya
berpikir untuk mengikuti misa Jum’at pertama karena jika hari Jum’at sebelumnya
yang merupakan hari kerja, saya sudah lelah ketika pulang kerja sehingga tidak
lagi mengikuti misa. Akhirnya, saya pun merealisasikan niat saya tersebut
dengan pergi ke gereja Gembala Baik, gereja yang saya pergi tiap minggunya.
Misa pun dimulai pada pukul 17.30 WIB yang dimulai dengan adorasi penyembahan
sakramen mahakudus. Setelah selesai adorasi dilanjutkan dengan perayaan
ekaristi seperti biasa.
Kata pengantar pembukaan dari pastor pun mengatakan
bahwa hari ini merupakan peringatan untuk Beato Dionisius dan Redemptus. Kedua
nama tersebut merupakan nama orang kudus yang jarang saya dengar. Pastor pun
menjelaskan secara singkat riwayat hidup mereka dan menyebut bahwa kedua Beato
tersebut menjadi martir di Aceh, Indonesia. Sontak saja saya kaget karena saya
hingga hari ini tidak pernah mengetahui ada martir di Indonesia.
Sepulang misa,
saya pun langsung mencari info tentang mereka dan diketahui bahwa Dionisius
yang berasal dari Perancis Utara dan merupakan seorang imam karmelit. Sedangkan
Redemptus yang berasal dari Portugal dan merupakan seorang bruder karmelit.
Keduanya diutus oleh Raja Muda Portugis di Goa yang bernama Peter Da Silva pada
tahun 1638 ke Aceh dengan maksud untuk menjalin hubungan persahabatan kareana
Aceh pada saat itu baru berganti penguasa dari Sultan Iskandar Muda ke Sultan
Iskandar Thani. Mereka pada akhirnya sampai di Aceh dan berlabuh di Ole-Ole
atau sekarang yang disebut Kotaraja. Singkat cerita, orang-orang Belanda yang
telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan meyebut bangsa Portugis yang baru
datang tersebut untuk mengkatolikkan masyarakat Aceh yang telah memeluk agama
Islam. Hal tersebut membuat kedua biarawan tersebut dijebloskan ke dalam
penjara selama sebulan dan karena tetap menolak untuk mengingkari iman mereka
maka kedua biaran tersebut pada akhirnya dihukum mati.
Seusai membaca cerita tentang
Beato Dionisius dan Redemptus yang menjadi martir di Aceh, saya teringat
tentang satu film yang jalan ceritanya mirip dengna kisah tersebut. Film
tersebut dirilis tahun 2016 dan berjudul “Silence”. Film yang mendapat rating
7.2/10 dari IMDb dan 79 dari Metascore tersebut
disutradarai oleh Martin Scorsese, seorang sutradara kawakan yang telah menyutradari
banyak film dan telah memenangkan banyak penghargaan. Film tersebut juga
diperankan oleh Andrew Garfield yang kita kenal lewat film Spiderman, Adam
Driver yang dikenal lewat film Star Wars The Force Awakens karena mendapat
peran sebagai Darth Vader dan Liam Neeson yang telah main banyak film dan saya
kenal melalui film Taken. Sebuah film yang bercerita tentang dua imam Jesuit yang
bernama Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) dari Portugal yang
ditugaskan ke Jepang untuk mencari senior mereka yang bernama Ferreira (Liam
Neeson) karena beredar kabar bahwa Liam Neeson telah meninggal di Jepang.
Sesampainya mereka di Jepang mereka harus menghadapi tantangan bahwa Jepang
pada masa abad ke 17 tersebut menolak adanya misionaris yang mencoba
menyebarkan agama baru di Jepang sementara di Jepang sendiri telah memiliki
kepercayaan setempat. Mereka pun pada akhirnya menjadi incaran prajurit dan
pejabat kekaisaran Jepang.
