Sabtu, 02 Desember 2017

Dionisius, Redemptus dan Silence

Tanggal 1 Desember 2017 yang jatuh pada hari Jum’at merupakan hari libur nasional karena hari ini merupakan hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Hari Jum’at ini juga merupakan Jum’at pertama di bulan Desember dimana gereja Katolik selalu mengadakan misa untuk devosi kepada Hati Kudus Yesus. Hari libur kali ini saya manfaatkan untuk membaca koran-koran lama yang belum pernah saya baca sehingga dengan menyicil membaca koran-koran lama saya yang masih menumpuk di waktu senggang pada hari libur ini setidaknya dapat mengurangi tumpukan koran-koran lama tersebut. Pada sore harinya, saya berpikir untuk mengikuti misa Jum’at pertama karena jika hari Jum’at sebelumnya yang merupakan hari kerja, saya sudah lelah ketika pulang kerja sehingga tidak lagi mengikuti misa. Akhirnya, saya pun merealisasikan niat saya tersebut dengan pergi ke gereja Gembala Baik, gereja yang saya pergi tiap minggunya. Misa pun dimulai pada pukul 17.30 WIB yang dimulai dengan adorasi penyembahan sakramen mahakudus. Setelah selesai adorasi dilanjutkan dengan perayaan ekaristi seperti biasa.
Kata pengantar pembukaan dari pastor pun mengatakan bahwa hari ini merupakan peringatan untuk Beato Dionisius dan Redemptus. Kedua nama tersebut merupakan nama orang kudus yang jarang saya dengar. Pastor pun menjelaskan secara singkat riwayat hidup mereka dan menyebut bahwa kedua Beato tersebut menjadi martir di Aceh, Indonesia. Sontak saja saya kaget karena saya hingga hari ini tidak pernah mengetahui ada martir di Indonesia.
Sepulang misa, saya pun langsung mencari info tentang mereka dan diketahui bahwa Dionisius yang berasal dari Perancis Utara dan merupakan seorang imam karmelit. Sedangkan Redemptus yang berasal dari Portugal dan merupakan seorang bruder karmelit. Keduanya diutus oleh Raja Muda Portugis di Goa yang bernama Peter Da Silva pada tahun 1638 ke Aceh dengan maksud untuk menjalin hubungan persahabatan kareana Aceh pada saat itu baru berganti penguasa dari Sultan Iskandar Muda ke Sultan Iskandar Thani. Mereka pada akhirnya sampai di Aceh dan berlabuh di Ole-Ole atau sekarang yang disebut Kotaraja. Singkat cerita, orang-orang Belanda yang telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan meyebut bangsa Portugis yang baru datang tersebut untuk mengkatolikkan masyarakat Aceh yang telah memeluk agama Islam. Hal tersebut membuat kedua biarawan tersebut dijebloskan ke dalam penjara selama sebulan dan karena tetap menolak untuk mengingkari iman mereka maka kedua biaran tersebut pada akhirnya dihukum mati.
Seusai membaca cerita tentang Beato Dionisius dan Redemptus yang menjadi martir di Aceh, saya teringat tentang satu film yang jalan ceritanya mirip dengna kisah tersebut. Film tersebut dirilis tahun 2016 dan berjudul “Silence”. Film yang mendapat rating 7.2/10 dari IMDb  dan 79 dari Metascore tersebut disutradarai oleh Martin Scorsese, seorang sutradara kawakan yang telah menyutradari banyak film dan telah memenangkan banyak penghargaan. Film tersebut juga diperankan oleh Andrew Garfield yang kita kenal lewat film Spiderman, Adam Driver yang dikenal lewat film Star Wars The Force Awakens karena mendapat peran sebagai Darth Vader dan Liam Neeson yang telah main banyak film dan saya kenal melalui film Taken. Sebuah film yang bercerita tentang dua imam Jesuit yang bernama Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) dari Portugal yang ditugaskan ke Jepang untuk mencari senior mereka yang bernama Ferreira (Liam Neeson) karena beredar kabar bahwa Liam Neeson telah meninggal di Jepang. Sesampainya mereka di Jepang mereka harus menghadapi tantangan bahwa Jepang pada masa abad ke 17 tersebut menolak adanya misionaris yang mencoba menyebarkan agama baru di Jepang sementara di Jepang sendiri telah memiliki kepercayaan setempat. Mereka pun pada akhirnya menjadi incaran prajurit dan pejabat kekaisaran Jepang.